Breaking News: Harga Gas Alam Anjlok 11%, Batu Bara Mengekor!

ruangluas.com – Harga batu bara terus melandai seiring dengan memudarnya persoalan pelik gas di Eropa. Pada perdagangan Selasa (18/10/2022), harga batu bara kontrak November di pasar ICE Newcastle ditutup di US$ 386,8 per ton. Harganya turun 1,49 % dibandingkan perdagangan hari sebelumnya.

Pelemahan kemarin memperpanjang tren negatif pasir hitam yang sudah melemah sejak awal pekan. Dalam dua hari terakhir, harga batu bara sudah menyusut 2,69%. Dalam sepekan, harga batu bara melandai 0,44% secara point to point. Harga pasir hitam juga sudah ambles 9,6% dalam sebulan dan melesat 64,6% dalam setahun.

Melandainya harga batu bara tidak bisa dilepaskan dari ambruknya harga gas Eropa. Batu bara merupakan sumber energi alternatif bagi gas sehingga pergerakan gas sangat menentukan harga pasir hitam.

Harga gas alam EU Dutch TTF (EUR) anjlok 11,59% kemarin ke 113,22 euro per megawatt-jam (MWH). Harga tersebut adalah yang terendah lebih dari empat bulan terakhir.

Harga gas Eropa anjlok setelah adanya kepastian pasokan gas alam cair dari Norwegia dan Amerika Serikat, proyeksi musim dingin yang lebih hangat, memadainya pasokan, serta rencana Uni Eropa membatasi harga gas.

Pasokan gas di Eropa rata-rata kini mencapai 92% dari kapasitas. Jerman bahkan sudah mengisi pasokan gas hingga 96% dari kapasitas pada 16 Oktober. Artinya, target pengisian gas lebih cepat dari rencana awal yakni 1 November.

Sejumlah negara juga terus meningkatkan pasokan listriknya dari sumber energi lain. Jerman, misalnya, menambah pasokan dari energi nuklir. Dengan pasokan gas yang melimpah maka permintaan batu bara di kawasan Eropa selama musim dingin kemungkinan tidak sebesar proyeksi awal.

Harga gas juga melandai setelah Uni Eropa mengajukan proposal pembatasan harga gas “price cap”. Dilansir dari Reuters, Badan Eropa untuk Kerja sama Pengatur Energi (ACER) akan mulai menetapkan batas harga untuk gas alam cari paling terlambat 23 Maret mendatang.

Sementara itu, fenomena La Nina diperkirakan akan membuat Eropa lebih hangat dari biasanya pada musim dingin mendatang. Sekitar 40-50% dari wilayah Eropa akan menghadapi musim dingin yang lebih hangat dari biasa.

TIM RISET CNBC INDONESIA

Leave a Comment