Cerita dari Jam Tangan Kayu Indonesia: Mendunia dengan Warna, Merambah Semesta lewat Dunia Maya

ruangluas.com – “Keren banget nih kalau PALA bisa dipakai, bakal heboh banget,” ujar Ilham Pinastiko berangan-angan produknya dikenakan oleh para peserta KTT G20 , ketika dihubungi KOMPAS.com pada Kamis (13/10/2022).

Ilham merupakan COO dan Founder PALA Nusantara , merek jam tangan kayu asal Bandung, Jawa Barat, yang ditunjuk oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) sebagai suvenir KTT G20 di Bali sekaligus side event-nya.

Menparekraf Sandiaga Uno menerangkan, PALA dipilih lantaran setiap sudut desainnya terinspirasi dari kisah Nusantara.

“Jam tangan ini kita pesan khusus untuk suvenir para delegasi G20 yang hadir di peluncuran side events. Jam tangan ini menggambarkan semangat kita. Kita meminta mereka memberikan yang terbaik kontribusinya agar G20 ini bisa secara sukses,” kata Sandiaga dikutip dari (20/4/2022).

Tak hanya itu, produk jam tangan kayu yang fokus dipasarkan secara online juga salah satu contoh transformasi ekonomi berbasis digital, yang termasuk satu dari tiga agenda utama Presidensi G20 Indonesia.

Dikutip dari atau Kominfo pada 17 Maret 2022, tiga agenda utama Presidensi G20 Indonesia adalah:

  • Arsitektur kesehatan global.
  • Transformasi ekonomi berbasis digital.
  • Transisi energi dan berkelanjutan.

Di Indonesia, merek-merek jam tangan kayu sudah bertebaran sejak beberapa tahun ke belakang dengan menyasar pasar konsumen usia muda. Selain PALA yang menjadi suvenir G20, contoh lainnya adalah Eboni Watch satu-satunya jenama jam tangan kayu dari Klaten, Jawa Tengah.

Cerita PALA berkarya dan Eboni berdiri

Ilham Pinastiko (35) mengeklaim dirinya termasuk orang yang memproduksi jam tangan kayu pertama di Indonesia pada 2010.

Kemudian di PALA Nusantara yang ia dirikan pada 3 Desember 2017, lulusan magister desain produk ITB tersebut mengeklaim sebagai orang pertama di Indonesia yang mendesain jam tangan tebal setebal 1 cm yang tidak umum saat itu.

Nama PALA diambil dari tanaman rempah di Kepulauan Maluku, yang dulu kala dianggap sebagai buah emas sehingga harga satu kilonya lebih mahal dari sekilo emas. Adapun nama Nusantara berarti bentang alam yang luas atau kepulauan dan lautan yang berasal dari belahan timur dunia.

Nama PALA dan Nusantara lalu disatukan karena memainkan peran penting dalam sejarah kebesaran Indonesia di mata dunia, dikutip dari .

Menurut Ilham, material kayu tidak bisa dibikin seolah-olah dengan ketebalan besi. “Istilahnya elu memanipulasi kayu, buat apa pakai kayu, mendingan pakai besi aja sebenarnya,” merujuk pada jam tangan kayu masa 2015-an yang menggunakan platform tipis.

“Dari dulu saya merasa kayu itu dijadikan produk secara tidak bijaksana, karena kayu itu besar-besar ratusan tahun, puluhan tahun jadinya kusen, jadinya pintu. Menurut saya itu terlalu masif dan si kayu ini makin ke sini makin susah, jadi memang seorang desainer harus bisa mengolah kayu secara bijaksana, itu kuncinya kalau kata dosen saya,” urai Ilham.

Ia pun merasa terpanggil bagaimana mengolah kayu yang harganya mahal seperti sonokeling, eboni, juga kayu-kayu lokal lainnya di Aceh atau Nusa Tenggara Timur (NTT) yang tidak bisa keluar dari daerahnya, dapat lebih bernilai ketika dipakai.

Berbeda dengan Ilham, Afidha Fajar Adhitya (32) mendirikan Eboni Watch pada 10 Oktober 2014 tanpa latar belakang selaras dengan bidang studinya dulu. Dia lulusan jurusan bahasa Inggris, tanpa background di bidang kriya (kerajinan) kayu.

Kesamaan mereka adalah sama-sama tertarik dengan kayu. Bagi Afid, kayu merupakan bahan yang paling dekat dengan manusia, tidak artifisial.

“Dari dulu kita bangunan dari kayu, apa-apa dari kayu. Makanya kalau kita bisa membuat barang itu value-nya dinaikkan, lebih fungsional, bahkan untuk kegiatan manusia, itu pasti akan lebih baik karena selain dekat secara batin dengan manusia dia juga sustainable (berkelanjutan),” imbuhnya.

Nama Eboni merujuk pada salah satu kayu asli Indonesia yang banyak tumbuh di Sulawesi.

“Eboni adalah kayu yang kuat dan eksotik, sehingga kami berharap brand kami juga kuat dan banyak dicari orang karena kualitasnya,” ujar Afidha kepada KOMPAS.com dalam kesempatan terpisah .

Eboni mulanya adalah jenis kayu yang dipakai Afid sebagai bahan jam tangan, tetapi setelah semakin susah dicari dia menggantinya dengan kayu sonokeling atau rosewood dan maple.

Pria asal Klaten, Jawa Tengah, itu mengaku awalnya hanya bertujuan membuat jam tangan kayu untuk masyarakat Indonesia, tetapi tanpa disangka saat peluncuran (launching) pertama langsung ada pembeli dari luar negeri.

“Produksi awal Desember 2014, launching Januari 2015. First launching di Instagram sudah ada yang beli kolektor jam kayu di Afrika Selatan,” kata Afid ketika ditemui KOMPAS.com di kantor Eboni, Senin (17/10/2022).

Afid melanjutkan, dari 12 buah jam tangan yang pertama dia buat, dua di antaranya laku ke Afsel. Pembeli menghubunginya lewat e-mail. Saat itu harga jamnya Rp 750.000 dengan ongkos kirim atau ongkir Rp 650.000.

“Karena waktu itu WhatsApp belum secanggih sekarang. Kalau sekarang WhatsApp bisa lintas budaya (negara), kalau dulu kan belum. Jadi kita e-mail-an, e-mail-nya Outlook gitu,” kenang Afid.

Ia juga membeberkan strategi pemasaran digitalnya dulu. Ketika dipasarkan pada 2014-2015, penggunaan hashtag di Instagram sangat efektif.

“2014-2015 kan masih sepi ya Instagram, enggak sepenuh sekarang. Jadi orang search pakai hashtag gampang banget,” imbuhnya.

Menurut Afid, konsumen asal Afrika Selatan yang berprofesi fotografer itu sangat puas dengan jam Eboni. “Sampai difotoin dan segala macam, ya itu mungkin momen paling berkesan aku pertama kali launching Eboni.”

Baik Ilham dan Afid sama-sama meniti jalan yang tidak mudah untuk sampai di tingkat sekarang. Berbagai lika-liku dan rintangan harus mereka lalui.

Ilham contohnya, yang sempat mengalami keterbatasan teknologi, pengetahuan, hingga sulitnya mencari pengrajin.

“Susah cari pengrajin yang sudah spesifik jam tangan. Kalau di sepatu banyak, di dompet banyak, jaket, baju, banyak banget. Mana ada pengrajin yang mau ngamplas sekecil-kecil kelingking. Jadi semua itu di-training dari nol,” terangnya.

Afid pun belajar otodidak dengan memproduksi secara mandiri, mencari supplier mesin dan baterai sendiri, sampai mengembangkan sistem produksi khasnya, karena waktu itu YouTube belum sepopuler sekarang.

Semua pegawai juga dia ajari dari nol, mulai dari administrator media sosial hingga HR (Human Resources). “Tidak ada yang background-nya sama, semua belajar bareng.”

Pengalaman yang cukup membantunya adalah bisnis sebelumnya di bidang kulit (tas dan dompet) yang membuatnya mengerti cara pengiriman ke luar negeri.

“Kalau (mengirim) produk natural (hasil alam) itu memang agak tricky, jadi kita harus punya izin khusus, karena kayunya kayu Indonesia, kulit dari sini, jadi (barangnya) harus masuk balai karantina pertanian, harus ada suratnya bahwa ini bebas dari jamur, virus,” terang Afid.

Terbentur, terbentur, terbentuk

Jatuh-bangun dialami Eboni dan PALA dalam membangun produknya masing-masing.

Afid bercerita, dia pernah mendapat komplain dari konsumen Warga Negara Asing (WNA) karena dua dari sepuluh pesanan jamnya lonjong, tidak bulat sempurna. Kala itu Afid dan timnya masih memproduksi secara manual, belum memakai mesin.

“2016-2019 pakai bubut (dari) pihak ketiga manual, lalu dirapikan sendiri manual juga pakai cutter. Hanya dengan empat orang bisa produksi, tapi minusnya size (ukuran) bisa beda-beda, ada yang lonjong.”

Afid kemudian membeli mesin bubut CNC pada akhir 2019, tetapi tidak tahu cara memakainya. Akhirnya dia bersama tim belajar dari YouTube.

Namun, terkadang cara manual masih dilakukan karena lebih cepat daripada mesin. Contohnya membuat desain miring di bodi jam, yang jika manual bisa lima kali lebih cepat.

“Akhirnya aku bisa nggaji timku lebih, daripada timku banyak (orangnya), tapi gajinya mepet,” Afid menambahkan.

Kini, pengembangan-pengembangan yang dilakukan Afid bisa membuat semua produk Eboni water resistant 5 atm sejak 2019.

Pengujiannya menggunakan bejana setinggi satu meter lalu jam dicemplungkan sampai bawah, kemudian terlihat aman sampai satu jam lebih sedikit. Setelah satu jam produk akan memuai dan air masuk sehingga otomatis mati.

“Kalau jam yang enggak water resistant paling lima menit mati,” kata Afid. Bahkan, pengujian paling ekstrem pernah dilakukan dengan rafting bersama semua tim selama dua jam, dan hasilnya jam Eboni masih menyala semua.

Berbagai riset dan pengembangan pun dilakoni Ilham bersama mitranya yang seorang pebisnis, hingga meluncurkan jam tangan kayu pertama di Indonesia pada 2011.

“Tahun 2011 launching ternyata antusiasnya tinggi, edukasinya cepat, harga juga tinggi karena pionir, bisa dijual sampai harga Rp 2 juta per jam tangan, setara satu buah stool (kursi),” kenangnya

Kemudian, berangkat dari motivasi untuk menjadi pemimpin pasar jam tangan di Indonesia, ia mendirikan PALA Nusantara pada 3 Desember 2017.

Ilham mencoba melakukan sesuatu di PALA yang belum pernah dilakukan merek lain. Berbekal pemikiran dan idealismenya yaitu jam tangan bernarasi Indonesia, ia menyematkan roh, DNA, budaya, hingga mitologi Nusantara di setiap produknya.


Upaya Ilham ditunjang tesisnya pada 2014 tentang hubungan antara jam tangan dengan manusia, atau dalam kata lain psikologi desain.

“Setiap manusia punya hubungan yang dekat saat menggunakan jam tangan. Kenapa dia pakai Fossil, kenapa pakai G-Shock, karena dia ingin direpresentatifkan sebagai sesuatu di status sosialnya. Akhirnya (di PALA) saya sematkan melalui warna, melalui simbol, melalui pattern.”

Satu pengrajin PALA sekarang dapat membuat sekitar 30 buah jam per hari yang sudah dirakit. Ilham memberdayakan anak-anak muda di sekitar kantor yang terkena PHK akibat pandemi Covid-19 sebagai pegawainya.

Dari total 43 pegawai yang dimiliki sekarang, sekitar 70 persen pengrajinnya adalah warga lokal, sebagian besar dari Bandung.

Harga jam PALA kini bervariasi mulai dari Rp 399.000 hingga Rp 1,9 juta. Omzet bulanan saat ini hampir menyentuh angka Rp 1 miliar, sekitar Rp 800 juta-900 juta. Ini perkembangan pesat mengingat saat awal berdiri omzetnya rata-rata Rp 20 juta per bulan.

Adapun Eboni kini memiliki total pegawai 25 orang, termasuk 10 orang di bidang produksi. Pegawai mayoritas berasal dari Klaten, sedangkan yang dari luar kota seperti Malang dan Semarang contohnya, diberi fasilitas indekos khusus dari Eboni.

Harga jam Eboni berkisar Rp 299.000 hingga Rp 699.000. Ketika ditanya tentang omzet, Afid merahasiakan angkanya.

Menang lomba hingga dikenal dunia

Ilham menuturkan, model bisnis pertama yang ia tempuh untuk membangun PALA adalah kompetisi. Setiap tahun ia bersaing di beberapa ajang seperti dari Wismilak, The Big Start Indonesia oleh Blibli, sampai akhirnya dianugerahi Good Design Award pada 2017 yang membuatnya yakin bahwa PALA Nusantara bisa diterima pasar.

Tahun 2017 itu juga Ilham menelurkan produk PALA Ayam Cemani, lalu pada 2018 mereplika industri yang pernah dibuat sebelumnya untuk menjual luas produknya, seperti workshop, studio desain, jalur produksi, dan kebutuhan lainnya termasuk strukturisasi.

Selama 2016-2017 ia memulainya bertiga, terdiri dari satu orang pemasaran, satu kurir pengiriman ke jasa logistik yang juga bertugas membungkus paket, dan Ilham sendiri.

Pencapaian tertinggi PALA Nusantara di bidang kompetisi adalah menggaet semua lomba yang diikutinya pada 2018-2019 di Indonesia, dari yang kecil hingga sekelas e-commerce atau marketplace, bahkan berkesempatan meluncurkan produk yang Ilham klaim sebagai the first vegan watch in the world dari jamur, di Milan, Italia tahun 2019.

“Total ada 18 achievements kita dapat tahun 2019. The first vegan watch in the world dari jamur, namanya Pala Mylea. Sudah tersertifikasi dan punya hak paten internasional,” ucap Ilham.

Berbagai penghargaan juga diraih Eboni Watch dalam perjalanannya. Terbaru, mereka memenangi Golden Pin Design Award 2020 di Taiwan, Indonesia Good Design Selection (IGDS) Award 2021, lalu dua kali memenangi kategori People’s Choice di IGDS 2019 dan 2020. Semua dengan produk berbeda-beda

Soal ekspor, PALA Nusantara sudah mengirim produknya ke luar negeri tetapi bukan menggunakan kontainer. “Jadi ini kita ekspornya hand and carry-lah sekitar dua-tiga lusin,” terang Ilham.

Sudah ribuan produk yang diekspor ke negara-negara tujuan antara lain di Eropa, Asia, Amerika, khususnya New York, Kanada, Korea Selatan, Jepang, Jerman, dan Swiss. Hanya Afrika yang belum tersentuh.

Ekspor ini disebut Ilham sesuai dengan misi PALA yaitu menciptakan dalang-dalang muda untuk menceritakan Nusantara kepada dunia.

Sementara itu, negara-negara tujuan ekspor Eboni mencakup Afrika Selatan, Jepang, Amerika Serikat, Rusia, hingga Amerika Latin.

Namun, Afid mengeluhkan regulasi terbaru yang membuatnya sulit mengirim jam tangan dengan baterai ke luar negeri menggunakan pesawat belakangan ini.

“Banyak negara yang nge-ban (melarang). Aku bisa kirim tapi enggak pakai baterai. Kan susah ya, masa di sana suruh ngerakit sendiri, bongkar, enggak make sense (masuk akal) kan, kecuali lewat laut. Cuman lewat laut kalau aku kirim cuma 10 kayak rugi waktu,” urainya seraya membandingkan bahwa pengiriman lewat udara hanya butuh 3-4 hari.

Ia juga mengeluhkan mahalnya ongkir ke luar negeri seperti China, padahal mengirim barang dari China ke Indonesia biayanya jauh lebih murah.

Sekarang, beberapa negara yang masih menjadi destinasi pengiriman jam Eboni dengan baterai antara lain Singapura, India, dan Turki, tetapi Afid kurang tahu apa dasar regulasi di sana membolehkannya.

“Sebenarnya kalau secara regulasi keluar (ekspor) itu enak, sebenarnya enggak masalah, kita produksi berapa pun oke-oke saja,” ucap Afid.

Cerita PALA jadi suvenir G20

Ilham menuturkan, produk PALA Nusantara mulai dikenal Pemerintah Indonesia ketika ia dikontrak sebagai desainer Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) selama 2017-2019, dan sempat menjadi desainer tenaga ahli juga di Kementerian Perdagangan.

Lebih lanjut ia bercerita, jauh sebelum KTT G20 tepatnya pada Oktober 2021 sudah ditelepon bahwa PALA diajukan sebagai suvenir pertemuan tingkat tinggi itu untuk presiden.

Untuk membuat suvenir KTT G20, PALA Nusantara mengangkat pesan Sunan Bonang yaitu Sumuruping Geni yang artinya menyalakan api.

“Sekarang kita harus menyalakan api, 17 abad setelah Sunan Bonang meninggal, generasi Indonesia harus menyalakan api untuk memperkuat Nusantara,” jelas Ilham tentang filosofi produknya.

Jam PALA di KTT G20 terinspirasi dari produk sebelumnya yaitu Abhisana yang artinya pusaka. Ada dua macam Abhisana, yakni Abhisana Gada dan Abhisana Yanu.

“Jam tangan bagaikan pusaka, jadi akan aging (berumur) akan seperti keris, jadi warnanya akan berubah, akan mengeluarkan bercak setelah teroksidasi karena berbahan kuningan. Akhirnya saya angkat kuningannya yang glowing, kulit yang premium, sama kayu yang premium dengan konsep Gada Geni dan Yanu Geni,” urai Ilham.

Eboni mendunia dengan warna

Sementara itu menurut Afid, bagi WNA desain Eboni lebih diminati orang Eropa kemungkinan karena warna. “Orang-orang Italia, Perancis, itu suka warna yang tabrak gitu, warna-warna mencolok. Dan fungsional, enggak minimalis banget, enggak yang complicated banget.”

Minat dari luar negeri inilah yang mendorong Afid menciptakan pilihan warna tertentu sesuai permintaan pasar.

“Kita forecasting (memperkirakan) tren-tren desain yang lagi tren di dunia. Misalnya warna yang lagi tren 2021 di Eropa namanya fusia, pink yang nyala. Ada juga warna sage tahun 2020. Eboni juga mengambil beberapa referensi warna dari iPhone seperti midnight green, pacific blue, dan warna iPod lawas.”

“Itu aku pakai survei, semua by data, jadi enggak cuma tebak-tebakan ‘kayaknya orang suka gini’, enggak. Jadi ada tim surveiku yang mensurvei konsumen,” terang Afid.

Selain menuruti tren pasar, Afid juga membuat desain jam yang sesuai seleranya sebagai signature. Jenis satu ini tidak diproduksi sebanyak yang berbasis minat konsumen, tetapi sering diikutkan lomba-lomba desain produk.

Misalnya, pada akhir 2020 Eboni meluncurkan produk edisi terbatas bernama Pamor yang berbahan keris, berkolaborasi dengan empu pengrajin keris. Dial-nya dari bahan keris yang ditempa sungguhan dan pembuatnya harus puasa.

Dream come true ya kalau aku bilang, karena bisa enggak sih barang yang tradisional, pusaka ya kalau keris kan pusaka, itu bisa enggak sih jadi produk fesyen,” tutur Afid.

Eboni Pamor hanya dibuat 20 buah dengan harga Rp 3,5 juta. Saat dipamerkan di Festival Joglosemar 2021, Afid bercerita bahwa jam ini dibeli langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Pandjaitan; dan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD.

Inovasi

Sudah dikenal publik Indonesia dan merambah konsumen di luar negeri tidak menyurutkan tekad Ilham dan Afid untuk terus maju.

Ke depannya, PALA hendak berinovasi dengan kolaborasi bersama merek-merek indie dan riset untuk mengembangkan material lain selain kayu.

Salah satu contoh terbaru inovasinya adalah casing yang diberi nama Mramu. Produk ini adalah kerja sama PALA dengan ONX Idea Studio melalui gerakan kreatif berkelanjutan KYBProject (Kick Your Butt).

Dengan mengaplikasikan cella board yang terbuat dari lebih dari 264.000 puntung rokok, KYBProject membuat 200 unit koleksi jam tangan di tahap awal peluncurannya.

Sampah diketahui masih menjadi persoalan pelik di Indonesia. Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada Februari 2019 merilis bahwa Indonesia menghasilkan sedikitnya .

Berdasarkan data tersebut, sekitar 60 persen sampah diangkut dan ditimbun ke TPA, 10 persen sampah didaur ulang, sedangkan 30 persen lainnya tidak dikelola dan mencemari lingkungan.

Sementara itu, Afid bercita-cita Eboni dapat dipakai di semua aspek kehidupan manusia, seperti anak sekolah, orang kerja, hingga ibu-ibu arisan.

“Eboni juga ingin lebih fungsional dengan merambah jam digital, smartwatch, semua dari kayu. Semuanya sedang diproses dan akan launching tahun 2023,” pungkas Afid.

Leave a Comment