IHSG Melaju di Zona Hijau, Rupiah Justru Tertekan

ruangluas.com – Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) bergerak di zona hijau, pada awal perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) Kamis (20/10/2022). Hal ini berbeda dengan mata uang garuda yang melemah pada perdagangan pasar spot.

Melansir data RTI, pukul 09.23 WIB, IHSG berada pada level 6.017,25 atau naik 58,83 poin (0,8 persen) dibandingkan dengan penutupan sebelumnya pada posisi 6.860,41.

Sebanyak 290 saham melaju di zona hijau dan 133 saham di zona merah. Sedangkan 178 saham lainnya stagnan. Adapun nilai transaksi hingga saat ini mencapai Rp 1,8 triliun dengan volume 3,4 miliar saham.

Bursa Asia merah dengan penurunan Hang Seng Hong Kong 2,7 persen, Shanghai Komposit 0,61 persen, Strait Times 0,09 persen, dan Nikkei 1,19 persen.

Wall Street pada penutupan pagi ini juga merah, dengan penurunan S&P 500 sebesar 0,6 persen, Nasdaq Composite 0,8 persen, dan Dow Jones Industrial Average (DJIA) 0,3 persen.

Sebelumnya, Research Analyst Artha Sekuritas Indonesia Dennies Christoper Jordan mengatakan, Candlestick membentuk higher high dan higher low dengan stochastic membentuk goldencross.

“IHSG diprediksi menguat. Pergerakan akan didorong musim laporan keuangan kuartal III-2022 yang akan datang. Di sisi lain, investor akan mencermati hasil kebijakan suku bunga yang akan diumumkan kamis ini oleh Bank Indonesia,” kata Dennies dalam rekomendasinya.

Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS di pasar spot pagi ini melemah. Melansir Bloomberg, pukul 09.21 WIB rupiah bergerak pada level Rp 15.580 per dollar AS, atau turun 82 poin (0,53 persen) dibanding penutupan sebelumnya di level Rp 14.`498 per dollar AS.

Analis Bank Mandiri, Reny Eka Putri mengatakan, pergerakan rupiah masih dipengaruhi oleh normalisasi kebijakan Bank Sentral yang masih berlanjut. Prospek kebijakan hawkish The Fed ke depan masih membuat mata uang dollar AS menguat terhadap major currencies, tak terkecuali rupiah.

“Indeks Dollar juga tetap bertengger di kisaran 113 yang mengindikasikan apresiasi dollar AS yang terus terjadi, sehingga membuat rupiah melemah,” kata Renny.

Petinggi The Fed, Bullard, juga mengindikasikan inflasi AS akan makin tinggi sehingga membuat merket kembali mengoleksi dollar AS. Sebaliknya, Capital outflow juga terus berlanjut di pasar domestik sehingga belum mampu membuat rupiah melanjutkan penguatan seperti perdagangan kemarin.

Di tengah penantian hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, pelaku pasar cenderung mengamankan posisi dan bersikap wait and see di pasar valas. Terdapat potensi kenaikan suku bunga acuan BI 7DRRR pada RDG kali ini.

“Kami memperkirakan akan ada kenaikan sebesar 50 bps ke level 4,75 persen dan ini akan menjadi sentimen lanjutan bagi Rupiah. Rupiah diperkirakan akan diperdagangkan di kisaran Rp 15.425 – Rp 15.512 per dollar AS pada perdagangan hari ini dengan katalis perkembangan eksternal yang cenderung menyebabkan capital flight sehingga masih menjadi faktor tekanan utama bagi rupiah,” tegas Reny.

Disclaimer: Artikel ini bukan untuk mengajak membeli atau menjual saham. Segala rekomendasi dan analisa saham berasal dari analis dari sekuritas yang bersangkutan, dan Kompas.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan atau kerugian yang timbul. Keputusan investasi ada di tangan Investor. Pelajari dengan teliti sebelum membeli/menjual saham.

Leave a Comment