Lahapnya Para Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral G20 Menyantap Kuliner Khas RI Saat Pertemuan FMCBG

ruangluas.com – >

JAKARTA, KOMPAS.com – Pertemuan keempat Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral (4th FMCBG) G20 di Washington D.C, Amerika Serikat telah dilaksanakan pada 12-13 Oktober 2022.

Dibalik pertemuan yang membahas tantangan ekonomi global ini, rupanya para menteri keuangan dan gubernur bank sentral negara anggota G20 dijamu dengan kuliner khas nusantara.

Para menteri keuangan dan gubernur bank sentral tampak lahap menyantap berbagai menu kuliner asal Indonesia yang dihidangkan.

Hal ini terlihat dari video yang diunggah oleh akun YouTube resmi Bank Indonesia (BI) berjudul Kulineran Indonesia di 4th FMCBG yang dapat dilihat di link berikut .

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, beberapa menu kuliner khas Indonesia yang dihidangkan berupa nasi uduk, ayam bakar, tempe bacem, dan pepes jamur.

Tak ketinggalan menu makanan selingan seperti asinan, siomay, hingga dumpling juga turut disajikan kepada para menteri keuangan dan gubernur bank sentral G20.

“Ada siomay, ada dumpling. Terus saladnya apa? Asinan, keren kan. Yang dahsyat nih sobat nih nasi nusantara. Lho nasi nusantara itu apa sih? Nasinya nasi uduk. Lauknya apa? Ayam bakar, tempe bacem, ada juga pepes jamur. Top kan,” ujar Perry, dikutip Selasa (18/10/2022).

Dalam video terlihat Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Janet Yellen dan Ketua Bank Sentral AS Jerome Powell tampak menikmati hidangan menu khas Indonesia.

“Nah coba liat itu semua delegasi, Janet Yellen saja makannya enak banget. Jerome Powell wah lahap,” kata Perry.

Kesepakatan yang dicapai anggota G20

Dikutip dari keterangan resmi G20, terdapat 6 keputusan yang dicapai oleh delegasi G20 dalam pertemuan FMCBG terakhir ini.

Pertama, dalam pembahasan ekonomi global, para anggota sepakat bahwa pemulihan ekonomi global semakin melambat karena risiko terus muncul.

Banyak anggota mengecam keras perang Rusia melawan Ukraina dan menyatakan pandangan bahwa perang agresi Rusia yang ilegal, tidak dapat dibenarkan dan tidak beralasan terhadap Ukraina mengganggu pemulihan ekonomi global.

Kedua, anggota G20 prihatin dengan meningkatnya kerawanan pangan dan energi kelompok rentan di seluruh dunia. Untuk itu, anggota menyambut Food Shock Window dari Dana Moneter Internasional (IMF) dalam instrumen pinjaman daruratnya.

Ketiga, G20 sepakat untuk mendukung ambisi kolektif mereka untuk pulih bersama dan pulih lebih kuat. Para anggota juga berkomitmen untuk mengurangi scarring effect untuk mendukung pertumbuhan yang kuat, berkelanjutan, seimbang, dan inklusif.

Keempat, bank sentral G20 berkomitmen kuat untuk mencapai stabilitas harga, sesuai dengan mandatnya masing-masing. Untuk itu, mereka memantau dengan cermat dampak tekanan harga terhadap ekspektasi inflasi dan akan terus mengkalibrasi laju pengetatan kebijakan moneter secara tepat.

Kelima, G20 terus memprioritaskan tindakan kolektif dan terkoordinasi untuk mengendalikan pandemi dan lebih siap menghadapi pandemi di masa depan. Salah satunya melalui pembentukan dana perantara keuangan pencegahan, kesiapsiagaan dan respons (PPR FIF) yang diselenggarakan oleh Bank Dunia.

Keenam, G20 menegaskan kembali komitmen kami terhadap implementasi cepat paket pajak internasional dua pilar OECD/G20. G20 meminta OECD untuk menyelesaikan pekerjaan pada implementasi paket tersebut.

Ketujuh, G20 menegaskan kembali komitmennya untuk memperkuat ketahanan keuangan jangka panjang dari arsitektur keuangan internasional, termasuk dengan mempromosikan aliran modal yang berkelanjutan, dan mengembangkan pasar modal mata uang lokal.

Kedelapan, berkomitmen untuk mendukung semua negara yang rentan untuk pulih bersama, pulih lebih kuat. Salah satunya melalui penghimpunan dana sukarela Special Drawing Rights (SDRs).

Kesembilan, G20 menyambut baik kemajuan yang dibuat oleh Infrastructure Working Group (IWG) menuju pengembangan model tata kelola baru yang memungkinkan untuk Global Infrastructure Hub (GI Hub) dan meminta IWG untuk menyelesaikan prinsip-prinsip untuk memandu proses, dan melaporkan kembali ke G20.

Kesepuluh, berkomitmen mengatasi tantangan global yang mendesak seperti perubahan iklim untuk mencapai ekonomi dan masyarakat yang lebih hijau dan berkelanjutan.

Kesebelas, menyambut baik kemajuan yang dicapai di G20, organisasi internasional, jaringan dan inisiatif internasional lainnya, dan sektor swasta dalam menangani prioritas Peta Jalan Keuangan Berkelanjutan G20, yang bersifat sukarela dan fleksibel, dan menyerukan upaya lebih lanjut untuk memajukan Peta Jalan tersebut.

Keduabelas, G20 menggarisbawahi perlunya memperkuat ketahanan sistem keuangan global dan meminta Financial Stability Board (FSB) dan IMF untuk melanjutkan upaya pemantauannya.

Ketigabelas, menyetujui laporan FSB dan pembuat standar internasional lainnya untuk memastikan ekosistem aset kripto termasuk stablecoin dipantau secara ketat dan tunduk pada regulasi.

Keempatbelas, para anggota mendukung Kerangka Inklusi Keuangan G20 tentang Memanfaatkan Manfaat Digitalisasi, dengan tujuan meningkatkan produktivitas dan mendorong ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif untuk kelompok yang kurang terlayani yang dipandu oleh Rencana Aksi Inklusi Keuangan G20 2020.

Kelimabelas, dalam upaya memerangi pencucian uang, pendanaan terorisme, dan pendanaan proliferasi secara efektif, G20 mendorong semua anggota G20 untuk memperkuat kolaborasi untuk mengadopsi dan menerapkan standar Financial Action Task Force (FATF).

Leave a Comment