Minyak naik karena investor cari aset berisiko dan prospek China

ruangluas.com – Harga minyak naik di sesi Asia pada Rabu sore, memangkas kerugian sesi sebelumnya karena investor beralih ke aset-aset berisiko seperti komoditas di tengah kenaikan di pasar ekuitas yang lebih luas dan tanda-tanda permintaan baru dari importir minyak utama China.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Desember terangkat 22 sen atau 0,2 persen, menjadi diperdagangkan di 90,25 dolar AS per barel pada pukul 06.20 GMT.

Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman November menguat 68 sen atau 0,8 persen, menjadi diperdagangkan di 83,50 dolar AS per barel. Kontrak bulan depan WTI berakhir pada Kamis (20/10/2022) dan kontrak Desember yang lebih aktif berada di 82,66 dolar AS, naik 59 sen atau 0,7 persen.

Pada sesi sebelumnya, Brent merosot 1,7 persen dan WTI tergelincir 3,1 persen ke level terendah dalam dua minggu di tengah laporan rencana Presiden AS Joe Biden untuk melepaskan lebih banyak barel dari Cadangan Minyak Strategis (SPR).

Harga minyak juga didukung karena sentimen risiko terangkat oleh laporan pendapatan perusahaan-perusahaan AS yang positif dan pasar ekuitas yang meningkat.

Rebound kecil dalam harga minyak lebih mungkin karena sentimen yang lebih positif di bursa ekuitas dan pengembalian risiko pada perdagangan (bukan) dari fundamental industri,” kata Suvro Sarkar, analis energi utama di DBS Bank di Singapura.

Harga juga didukung oleh tanda-tanda kebangkitan permintaan China. Pengilangan besar swasta Zhejiang Petrochemical Corp (ZPC) memperoleh kuota impor minyak mentah tambahan untuk 2022 sebesar 10 juta ton dan ChemChina yang dikelola negara menerima kuota lebih lanjut sebesar 4,28 juta ton. Itu sama dengan sekitar 104 juta barel.

Larangan Uni Eropa yang tertunda terhadap minyak mentah dan produk minyak Rusia serta pengurangan produksi dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan produsen lain termasuk Rusia, sebuah kelompok yang dikenal sebagai OPEC+, sebesar 2 juta barel per hari juga membuat harga tetap kuat.

Pemotongan OPEC+ dan embargo Uni Eropa akan menekan pasokan di pasar yang sudah ketat. Sanksi Uni Eropa terhadap minyak mentah dan produk minyak Rusia akan mulai berlaku masing-masing pada Desember dan Februari.

“Dengan larangan Uni Eropa pada minyak mentah Rusia yang menjulang pada awal Desember, kami masih perkirakan secara keseluruhan bullish daripada bearish pada minyak di level saat ini,” kata Sarkar dari DBS, dikutip dari Reuters.

Untuk menutup kesenjangan, Presiden Biden akan mengumumkan rencana pada Rabu untuk menjual sisa pembebasannya dari SPR dan merinci strategi untuk mengisi kembali persediaan ketika harga turun, kata seorang pejabat senior pemerintah.

Pada Desember, pemerintah berencana untuk menjual 15 juta barel minyak dari cadangannya, tahap akhir dari pelepasan 180 juta barel yang diumumkan awal tahun ini, kata seorang pejabat senior AS.

Stok minyak mentah AS turun sekitar 1,3 juta barel untuk pekan yang berakhir 14 Oktober, menurut sumber pasar yang mengutip angka American Petroleum Institute pada Selasa (18/10/2022). Persediaan bensin turun sekitar 2,2 juta barel sementara stok sulingan turun 1,1 juta, kata sumber tersebut.

Persediaan minyak mentah AS diperkirakan telah meningkat untuk minggu kedua berturut-turut, naik 1,4 juta barel dalam seminggu hingga 14 Oktober, sebuah jajak pendapat Reuters menunjukkan pada Selasa (18/10/2022).

Data persediaan dari Badan Informasi Energi, cabang statistik Departemen Energi AS, dijadwalkan pada Rabu pukul 14.30 GMT.

Leave a Comment