Saham Asia jatuh, pasar kehilangan selera risiko & yield obligasi naik

ruangluas.com – Pasar saham Asia jatuh pada awal perdagangan Kamis, karena kekhawatiran investor atas resesi mengurangi selera risiko, sementara imbal hasil obligasi Pemerintah AS naik di tengah ekspektasi bahwa Federal Reserve (Fed) akan tetap agresif dalam menaikkan suku bunganya.

Yen Jepang merayap mendekati batas psikologis 150 per dolar setelah sebelumnya menandai terendah baru 32-tahun di 149,93.

Imbal hasil pada obligasi Pemerintah AS 10-tahun menyentuh tertinggi baru 14-tahun, menepis laporan perumahan yang lemah. Imbal hasil 10-tahun AS terakhir naik di 4,139 persen, melampaui tertinggi 4,136 persen yang disentuh sebelumnya.

“Imbal hasil naik ke siklus tertinggi baru dan selera risiko memburuk,” kata Ekonom Pasar National Australia Bank,Taylor Nugent, di Sydney, menambahkan bahwa komentar hawkish dari bank-bank sentral juga membebani sentimen.

Wall Street menghentikan kenaikan dua hari berturut-turut pada Rabu (19/10/2022), sementara dolar memantul dari posisi terendah dua minggu.

Indeks MSCI dari saham Asia Pasifik di luar Jepang turun ke level terendah lebih dari dua tahun di 436,0 poin, merosot 1,6 persen pada 437,16 poin,

Indeks S&P/ASX 200 Australia tergelincir 1,12 persen, sementara Nikkei Jepang dibuka 1,0 persen lebih rendah pada 26.981,75 poin.

Pasar saham China dibuka 0,5 persen lebih rendah ketika kongres dua kali satu dekade Partai Komunis yang berkuasa masih berlangsung dalam sesi minggu ini.

China pada Kamis mempertahankan suku bunga pinjaman acuannya tidak berubah untuk bulan kedua berturut-turut karena pihak berwenang menahan melepaskan lebih banyak stimulus moneter untuk menghindari perbedaan kebijakan yang mencolok dengan ekonomi utama lainnya.

Di pasar mata uang, dolar AS menguat karena investor berbondong-bondong ke safe haven setelah data inflasi di seluruh dunia meningkatkan prospek bank sentral melanjutkan kenaikan suku bunganya.

Pada Rabu (19/10/2022) Presiden TheFed Minneapolis Neel Kashkari mengatakan permintaan pasar kerja tetap kuat dan tekanan inflasi yang mendasarinya mungkin belum mencapai puncaknya.

Bank sentral AS secara luas diperkirakan akan menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin untuk keempat kalinya berturut-turut pada pertemuan November.

Namun, survei aktivitas ekonomiFed “Beige Book” menunjukkan bahwa ada beberapa pelonggaran di beberapa distrik, tetapi perusahaan mencatat tekanan harga-harga tetap tinggi.

Kenaikan dolar dan imbal hasil mendorong emas lebih rendah, dengan harga bertahan di palung tiga minggu pada Kamis pagi.

Yen yang rapuh telah mengalami penurunan beruntun selama 11 sesi berturut-turut pada penutupan Rabu (19/10/2022), dan telah memperbarui posisi terendah 32 tahun selama enam sesi terakhir.

“Ancaman intervensi resmi yang selalu mengintai mungkin memperlambat laju yang mungkin kita lihat dengan suku bunga global yang lebih tinggi,” kata Nugent dari National Australia Bank.

Bulan lalu Jepang melakukan intervensi di pasar valuta asing membeli yen untuk pertama kalinya sejak 1998, dalam upaya untuk menopang mata uang yang babak belur.

Leave a Comment