Tanduk Bertaji Ekonomi Indonesia

ruangluas.com – ua Oktober ini para menteri keuangan dan pejabat bank sentral di dunia berkumpul di Washington DC, Amerika Serikat (AS). Pertemuan tahunan Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional menjadi agenda utama diskusi dan menimbang catatan kritis atas urgensi kebijakan ekonomi yang fluktuatif di negara asal para menteri dan pejabar bank sentral itu.

Pertemuan berlangsung di tengah nestapa global. Perang Rusia dan Ukraina masih berkecamuk, ada ketidakpastian ekonomi global dengan tingginya inflasi, serta perlambatan pertumbuhan ekonomi di banyak negara yang memengaruhi negara-negara miskin.

Di mana posisi Indonesia saat itu?

Untungnya, kita berada di posisi yang cukup “aman”. Indikator stabilitas ekonomi dan politik relatif kuat di tengah ketegangan geopolitik global, meningkatnya inflasi, dan ancaman resesi.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2022 ini diperkirakan 5,4 persen, lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya 5 persen. Pertumbuhan ini jauh lebih tinggi dari Singapura 3,9 persen dan Thailand 2,9 persen.

Mengapa posisi Indonesia kini dirasa kuat? Perkiraan jawabannya adalah manajemen ekonomi yang bijaksana saat melalui tahun-tahun sulit pandemi Covid-19 dan solidnya koordinasi antara bank sentral dan pemerintah.

Berangkat dari pagebluk

Capaian Indonesia sebagai negara keempat di dunia untuk cakupan vaksinasi Covid-19 merupakan hal penting. Dengan capaian itu Indonesia terlihat mampu mengelola sektor publik maupun swasta untuk memerangi pandemi. Hal tersebut juga bisa menarik investor asing untuk masuk lagi.

Secara ekonomi, Indonesia sedang menikmati ledakan ekspor, dengan ekspor mencapai nilai tertinggi sepanjang masa sebesar 27,9 miliar dolar AS, naik dari 25,5 miliar dolar per Juli.

Sebagai produsen utama mineral dan produk pertanian, Indonesia menikmati rezeki nomplok dari ledakan komoditas.

Lebih dari itu, ekspor manufaktur Indonesia juga merambah ke banyak barang lain seperti tekstil dan elektronik. Pemerintah mengalokasikan sebagian rezeki nomplok untuk subsidi harga energi, sehingga inflasi terkendali meski harga pangan dan energi melonjak di pasar internasional.

Inilah yang memungkinkan Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga kebijakannya untuk stabil hingga Agustus tahun ini. Meskipun sikap hawkish dari sebagian besar bank sentral di negara lain sudah terjadi sejak Maret.

BI akhirnya mulai menaikkan suku bunga secara bertahap dari 3,75 persen di Agustus menjadi 4,25 persen pada September karena pengetatan uang yang relatif agresif dari Federal Reserve Amerika Serikat.

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan inflasi headline pada September sebesar 1,17 persen secara bulanan (mtm) dan 5,95 persen tahun-ke-tahun (yoy), sedangkan inflasi inti sebesar 3,21 persen yoy.

Inflasi itu jauh lebih rendah daripada di sebagian besar negara kawasan ASEAN. Kebijakan moneter yang stabil dan andal mampu menahan rupiah dari depresiasi tajam terhadap dolar. Bahkan, kinerja rupiah lebih baik dari mata uang lain seperti pound Inggris, yen Jepang, dan yuan China.

Dalam menjaga stabilitas ekonomi, BI menggunakan empat instrumen: pertama, melonggarkan kebijakan makroprudensial untuk mendukung pertumbuhan kredit perbankan; kedua, kebijakan yang akomodatif terhadap digitalisasi sistem pembayaran; ketiga, pendalaman pasar uang Indonesia; dan keempat, pembangunan ekonomi yang inklusif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Tugas bank sentral dalam menyeimbangkan tujuan ekonomi yang berbeda selalu merupakan tugas yang sulit, tetapi sejauh ini kinerja BI baik. Investor asing telah merespon positif stabilitas ekonomi dan politik serta prediktabilitas kebijakan.

Karena hal ini, sinergi otoritas fiskal dan moneter patut diapresiasi. Bank Pembangunan Asia memperkirakan pertumbuhan 5,4 persen untuk Indonesia tahun ini, naik dari 3,7 persen tahun lalu dan 5 persen untuk 2023.

Angka itu dianggap kuat mengingat ketidakpastian global kini. Kuatnya kinerja ekonomi juga ditunjukkan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) yang menjadi salah satu yang berkinerja terbaik di kawasan Asia dan Pasifik.

Perhatian investor

Investasi baru di sektor manufaktur mengalami peningkatan dramatis sebesar 38 persen. Pada paruh pertama tahun 2021 angkanya Rp 167,1 triliun (11,5 miliar dolar), pada paruh pertama tahun 2022 menjadi Rp 230,8 triliun.

Tentu saja, investasi di sektor manufaktur selalu membawa dampak pengganda dalam penyerapan tenaga kerja dan ekspor dapat meningkatkan penyerapan tenaga kerja. Hal ini juga memperkuat daya saing ekonomi Indonesia.

Namun, seperti yang diketahui bersama, ada bahaya di depan. Kemungkinan resesi global tidak akan menyelamatkan Indonesia, terutama jika harga komoditas turun. Sentimen proteksionis akan merugikan ekspor Indonesia, seperti juga perlambatan di China.

Karena itu, sangat penting menjaga disiplin fiskal menjelang Pemilihan Presiden 2024 dan menunjukkan Indonesia yang percaya diri dalam memilih pemimpin baru yang akan melanjutkan pengelolaan ekonomi yang hati-hati.

Ini juga akan menjadi sinyal penting bagi investor untuk melanjutkan reformasi regulasinya. Tetapi apakah awan di langit yang cerah adalah awan badai atau hanya sekedar bayangan yang lewat?

Indonesia harus mempertahankan arah kebijakan moneter dan stabilitas fiskal yang hati-hati dan menahan godaan untuk melanjutkan tingkat pengeluaran yang tinggi selama pandemi.

Pemerintah harus super hati-hati dalam pengelolaan anggaran negara, terutama fokus pada tiga bidang: mengelola dampak pandemi, Pemilihan Presiden 2024, dan langkah awal pengembangan proyek Ibu Kota Negara (IKN). Semua itu menjadi penting mengingat ancaman resesi global yang membutuhkan kebijakan fiskal dan moneter untuk mengelola risikonya.

Tantangannya kini adalah mempertahankan arah strategi. Jika Indonesia mencapai pertumbuhan 5,4 persen tahun ini dan 5 persen tahun depan, dengan latar belakang ketidakpastian ekonomi dan gejolak geopolitik, itu akan menjadi capaian yang besar.

Dengan kebijakan yang tepat dan akurat, dua hal itu bukan sesuatu yang tidak mungkin untuk diwujudkan. Singkatnya, Indonesia bangkit dari pandemi dengan catatan yang kuat saat menyelesaikan persiapan untuk menjadi tuan rumah G20 di Bali pada pertengahan November. Ini adalah momen kebanggaan dan untuk merefleksikan prestasi Indonesia.

Saat berkumpul di Washington, para menteri keuangan negara lain disarankan untuk melihat track record Indonesia.

Kehati-hatian dan stabilitas tetap menjadi jalan terbaik untuk pertumbuhan yang kuat di tengah prospek ekonomi global yang kian tak pasti.

Leave a Comment