Warga AS Dihukum 16 Tahun Penjara oleh Arab Saudi karena Kicauan 7 Tahun Lalu di Twitter

ruangluas.com – Arab Saudi menjatuhkan hukuman 16 tahun penjara kepada warga Amerika Serikat (AS) atas kicauannya tujuh tahun lalu, yang kritis terhadap kerajaan.

Departemen Luar Negeri AS mengonfirmasi penahanan Saad Ibrahim Almadi , seorang warga negara AS yang berasal Saudi, dan mengatakan AS memantau kasusnya mulai Desember dan hingga Senin (17/10/2022).

“Kami secara konsisten dan intensif menyampaikan keprihatinan kami mengenai kasus ini di tingkat senior pemerintah Saudi, baik melalui saluran di Riyadh dan Washington,” kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS Vedant Patel kepada wartawan.

“Melakukan kebebasan berekspresi tidak boleh dikriminalisasi,” katanya sebagaimana dilansir AFP.

The Washington Post melaporkan bahwa Almadi, yang tinggal di Florida dan pergi mengunjungi keluarga di Arab Saudi, ditahan pada November di bandara terkait 14 cuitan yang dia tulis selama tujuh tahun sebelumnya.

Mengutip putra Almadi, Ibrahim, surat kabar tersebut melaporkan pria yang berusia 72 tahun itu dijatuhi hukuman pada 3 Oktober hingga 16 tahun penjara dengan larangan perjalanan 16 tahun lagi setelah itu.

Padahal menurut Ibrahim, ayahnya hanya mengungkapkan pendapat “ringan” dengan kicauan yang menyebut soal korupsi di Arab Saudi dan pembunuhan Jamal Khashoggi, kolumnis yang berbasis di AS yang dimutilasi pada 2018 setelah dibujuk ke konsulat di Istanbul.

Almadi didakwa sebagian karena mendukung dan mendanai terorisme dan mencoba mengacaukan kerajaan Saudi, kata putranya, yang mengonfirmasi laporan Post kepada AFP.

Departemen Luar Negeri AS mengatakan tidak ada perwakilan pemerintahnya yang hadir pada putusan pengadilannya karena Arab Saudi merubah tanggal sidang sebelum jadwal.

“Kami tidak mendengar kabar dari pemerintah Saudi sampai setelah putusan tanggal 3 Oktober”, kata Patel, tanpa mengonfirmasi rincian keputusan tersebut.

Kematian Khashoggi, yang menulis untuk The Washington Post, memicu kemarahan di Washington meskipun presiden saat itu Donald Trump membual menyelamatkan putra mahkota Arab Saudi Mohammed Bin Salman, dari dampak besar.

Presiden Joe Biden kemudian mendeklasifikasi laporan intelijen yang menunjukkan bahwa putra mahkota memerintahkan pembunuhan itu, dan bersumpah menanggapi dengan lebih keras, termasuk atas serangan mematikan Arab Saudi di Yaman.

Namun, Biden pada Juli tetap melakukan perjalanan ke Arab Saudi dan difoto dengan putra mahkota. Perjalanan ini secara luas dianggap dilakukan untuk mencari bantuan kerajaan terkait harga gas, dengan memompa lebih banyak minyak.

Tetapi OPEC+, yang dipimpin oleh Arab Saudi, pada 5 Oktober mengumumkan pemotongan besar-besaran dalam produksi tepat menjelang pemilihan kongres AS, membuat marah Biden yang bersumpah akan ada konsekuensi atas kebijakan itu.

Arab Saudi telah lama menghadapi kritik atas hak asasi manusia . Blogger dan aktivis hak Raif Badawi menjalani hukuman 10 tahun penjara hingga Maret dan dicambuk di depan umum 50 kali karena tuduhan atas konten di situs webnya.

Leave a Comment